Minggu, 11 April 2010

analisis strategi penjualan


Siasat baru sebelum raksasa ritel pindah ke pinggir kota

sumber www.bisnis.com

Banyak jalan menuju Roma. Di bisnis ritel, kiat memajukan bisnis atau sekadar bertahan menghadapi persaingan dan aturan baru juga bermacam. Salah satunya siasat penggabungan konsep supermarket dan hipermarket yang dilakukan PT Hero Supermarket Tbk.
Langkah peritel ini menghadirkan supermarket Giant bisa dibilang hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Hero selama ini mengoperasikan format supermarket Hero dan hipermarket Giant.
Harga jual produk sejenis di Hero umumnya lebih murah ketimbang di Giant, meski kedua toko ritel itu di bawah payung perusahaan yang sama. Konsep supermarket Giant adalah toko dengan ukuran supermarket tapi menjual barang dengan harga hipermarket.
Seperti halnya Hero Supermarket, peritel yang mengoperasikan lebih dari satu format toko cukup banyak. Misalnya, PT Matahari Putra Prima memiliki supermarket Matahari dan hipermarket Hypermart.
Alasan yang selalu dikemukakan peritel modern untuk membedakan harga jual berlainan di format yang berbeda, karena hitung-hitungan usahanya yang jelas berbeda, baik kapasitas jual produk dan keuntungan yang diperoleh dari setiap jenis toko.
"Tentunya yang besar akan beda dengan toko yang lebih kecil," begitu dikemukakan peritel modern saat ditanyakan perbedaan harga jual produk peritel.
Jika supermarket dengan luas toko di bawah 4.000 m2 hanya mampu dikunjungi konsumen sekitar 1.000-2.000 orang per hari, dan pendapatannya berkisar Rp10 juta-di atas Rp100 juta per hari.
Bandingkan dengan hipermarket yang luasnya bahkan ada yang mencapai lebih dari 10.000 m2, serta mampu mendulang omzet mencapai miliaran rupiah per hari. Omzet lebih besar, tentunya akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak pula.
Di samping itu karena kapasitas serap produk yang berlipat ganda dari produsen, maka hipermarket akan mempunyai daya tawar yang tinggi dari kalangan industri untuk mendapatkan harga barang yang lebih kompetitif.
Supermarket murah
Namun kenyataannya, ada supermarket yang dikenal mampu menjual barang dengan harga yang kompetitif dengan hipermarket. Hal itu kemudian menjadi acuan, bahwa semua itu mungkin dilakukan.
Di samping itu kisaran perolehan juga tidak terlalu jauh berbeda antara supermarket yang laris (omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta) dengan hipermarket yang hanya mampu meraih omzet dalam angka yang minim (Rp200 juta).
Apalagi ritel modern dengan jejaring toko yang luas biasanya memiliki gudang dan pusat distribusi. Dari pemasok yang sama, yang juga disimpan dalam gudang yang sama, serta armada distribusi yang sama, semakin memberikan peluang harga jual barang di supermarket sama dengan yang ada di hipermarket.
Jika peritel ramai-ramai membuat supermarket yang menjual produk dengan harga semurah hipermarket, maka persaingan antarpasar modern juga semakin ketat.
Pasar tradisional yang selama ini mengomentari hipermarket yang mengepung tempat usaha mereka, barangkali juga akan beralih meneriakkan keberadaan supermarket yang harganya selisih jauh dengan produk sejenis yang mereka jual.
Apalagi jika draf Perpres Penataan dan Pembinaan Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern yang mengkapling lokasi hipermarket di pinggiran kota jadi diterbitkan.
Ataukah memang kebijakan mendirikan supermarket dengan harga jual produk sama dengan hipermarket, menjadi strategi peritel modern untuk tetap merebut pangsa pasar yang sudah diraih hipermarket mereka, jika jadi hengkang dari tengah kota.
Kalau sampai terjadi, maka begitu hipermarket \'berlalu\' jadi perbincangan pedagang pasar tradisional (karena pindah ke pinggiran kota), langsung mengalihkan topiknya menjadi supermarket murah.
Apalagi jumlah supermarket saat ini telah mencapai lebih dari 1.000 toko, sedangkan hipermarket masih terbilang puluhan.
Barangkali hal tersebut memang merupakan permasalahan yang belum berujung.


Banyak jalan menuju Roma. Di bisnis ritel, kiat memajukan bisnis atau sekadar bertahan menghadapi persaingan dan aturan baru juga bermacam. Salah satunya siasat penggabungan konsep supermarket dan hipermarket yang dilakukan PT Hero Supermarket Tbk.
Langkah peritel ini menghadirkan supermarket Giant bisa dibilang hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Hero selama ini mengoperasikan format supermarket Hero dan hipermarket Giant.
Harga jual produk sejenis di Hero umumnya lebih murah ketimbang di Giant, meski kedua toko ritel itu di bawah payung perusahaan yang sama. Konsep supermarket Giant adalah toko dengan ukuran supermarket tapi menjual barang dengan harga hipermarket.
Seperti halnya Hero Supermarket, peritel yang mengoperasikan lebih dari satu format toko cukup banyak. Misalnya, PT Matahari Putra Prima memiliki supermarket Matahari dan hipermarket Hypermart.
Alasan yang selalu dikemukakan peritel modern untuk membedakan harga jual berlainan di format yang berbeda, karena hitung-hitungan usahanya yang jelas berbeda, baik kapasitas jual produk dan keuntungan yang diperoleh dari setiap jenis toko.
"Tentunya yang besar akan beda dengan toko yang lebih kecil," begitu dikemukakan peritel modern saat ditanyakan perbedaan harga jual produk peritel.
Jika supermarket dengan luas toko di bawah 4.000 m2 hanya mampu dikunjungi konsumen sekitar 1.000-2.000 orang per hari, dan pendapatannya berkisar Rp10 juta-di atas Rp100 juta per hari.
Bandingkan dengan hipermarket yang luasnya bahkan ada yang mencapai lebih dari 10.000 m2, serta mampu mendulang omzet mencapai miliaran rupiah per hari. Omzet lebih besar, tentunya akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak pula.
Di samping itu karena kapasitas serap produk yang berlipat ganda dari produsen, maka hipermarket akan mempunyai daya tawar yang tinggi dari kalangan industri untuk mendapatkan harga barang yang lebih kompetitif.
Supermarket murah
Namun kenyataannya, ada supermarket yang dikenal mampu menjual barang dengan harga yang kompetitif dengan hipermarket. Hal itu kemudian menjadi acuan, bahwa semua itu mungkin dilakukan.
Di samping itu kisaran perolehan juga tidak terlalu jauh berbeda antara supermarket yang laris (omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta) dengan hipermarket yang hanya mampu meraih omzet dalam angka yang minim (Rp200 juta).
Apalagi ritel modern dengan jejaring toko yang luas biasanya memiliki gudang dan pusat distribusi. Dari pemasok yang sama, yang juga disimpan dalam gudang yang sama, serta armada distribusi yang sama, semakin memberikan peluang harga jual barang di supermarket sama dengan yang ada di hipermarket.
Jika peritel ramai-ramai membuat supermarket yang menjual produk dengan harga semurah hipermarket, maka persaingan antarpasar modern juga semakin ketat.
Pasar tradisional yang selama ini mengomentari hipermarket yang mengepung tempat usaha mereka, barangkali juga akan beralih meneriakkan keberadaan supermarket yang harganya selisih jauh dengan produk sejenis yang mereka jual.
Apalagi jika draf Perpres Penataan dan Pembinaan Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern yang mengkapling lokasi hipermarket di pinggiran kota jadi diterbitkan.
Ataukah memang kebijakan mendirikan supermarket dengan harga jual produk sama dengan hipermarket, menjadi strategi peritel modern untuk tetap merebut pangsa pasar yang sudah diraih hipermarket mereka, jika jadi hengkang dari tengah kota.
Kalau sampai terjadi, maka begitu hipermarket \'berlalu\' jadi perbincangan pedagang pasar tradisional (karena pindah ke pinggiran kota), langsung mengalihkan topiknya menjadi supermarket murah.
Apalagi jumlah supermarket saat ini telah mencapai lebih dari 1.000 toko, sedangkan hipermarket masih terbilang puluhan.
Barangkali hal tersebut memang merupakan permasalahan yang belum berujung.


Siasat baru sebelum raksasa ritel pindah ke pinggir kota
Banyak jalan menuju Roma. Di bisnis ritel, kiat memajukan bisnis atau sekadar bertahan menghadapi persaingan dan aturan baru juga bermacam. Salah satunya siasat penggabungan konsep supermarket dan hipermarket yang dilakukan PT Hero Supermarket Tbk.
Langkah peritel ini menghadirkan supermarket Giant bisa dibilang hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Hero selama ini mengoperasikan format supermarket Hero dan hipermarket Giant.
Harga jual produk sejenis di Hero umumnya lebih murah ketimbang di Giant, meski kedua toko ritel itu di bawah payung perusahaan yang sama. Konsep supermarket Giant adalah toko dengan ukuran supermarket tapi menjual barang dengan harga hipermarket.
Seperti halnya Hero Supermarket, peritel yang mengoperasikan lebih dari satu format toko cukup banyak. Misalnya, PT Matahari Putra Prima memiliki supermarket Matahari dan hipermarket Hypermart.
Alasan yang selalu dikemukakan peritel modern untuk membedakan harga jual berlainan di format yang berbeda, karena hitung-hitungan usahanya yang jelas berbeda, baik kapasitas jual produk dan keuntungan yang diperoleh dari setiap jenis toko.
"Tentunya yang besar akan beda dengan toko yang lebih kecil," begitu dikemukakan peritel modern saat ditanyakan perbedaan harga jual produk peritel.
Jika supermarket dengan luas toko di bawah 4.000 m2 hanya mampu dikunjungi konsumen sekitar 1.000-2.000 orang per hari, dan pendapatannya berkisar Rp10 juta-di atas Rp100 juta per hari.
Bandingkan dengan hipermarket yang luasnya bahkan ada yang mencapai lebih dari 10.000 m2, serta mampu mendulang omzet mencapai miliaran rupiah per hari. Omzet lebih besar, tentunya akan mendatangkan keuntungan yang lebih banyak pula.
Di samping itu karena kapasitas serap produk yang berlipat ganda dari produsen, maka hipermarket akan mempunyai daya tawar yang tinggi dari kalangan industri untuk mendapatkan harga barang yang lebih kompetitif.
Supermarket murah
Namun kenyataannya, ada supermarket yang dikenal mampu menjual barang dengan harga yang kompetitif dengan hipermarket. Hal itu kemudian menjadi acuan, bahwa semua itu mungkin dilakukan.
Di samping itu kisaran perolehan juga tidak terlalu jauh berbeda antara supermarket yang laris (omzetnya bisa mencapai lebih dari Rp100 juta) dengan hipermarket yang hanya mampu meraih omzet dalam angka yang minim (Rp200 juta).
Apalagi ritel modern dengan jejaring toko yang luas biasanya memiliki gudang dan pusat distribusi. Dari pemasok yang sama, yang juga disimpan dalam gudang yang sama, serta armada distribusi yang sama, semakin memberikan peluang harga jual barang di supermarket sama dengan yang ada di hipermarket.
Jika peritel ramai-ramai membuat supermarket yang menjual produk dengan harga semurah hipermarket, maka persaingan antarpasar modern juga semakin ketat.
Pasar tradisional yang selama ini mengomentari hipermarket yang mengepung tempat usaha mereka, barangkali juga akan beralih meneriakkan keberadaan supermarket yang harganya selisih jauh dengan produk sejenis yang mereka jual.
Apalagi jika draf Perpres Penataan dan Pembinaan Usaha Pasar Modern dan Usaha Toko Modern yang mengkapling lokasi hipermarket di pinggiran kota jadi diterbitkan.
Ataukah memang kebijakan mendirikan supermarket dengan harga jual produk sama dengan hipermarket, menjadi strategi peritel modern untuk tetap merebut pangsa pasar yang sudah diraih hipermarket mereka, jika jadi hengkang dari tengah kota.
Kalau sampai terjadi, maka begitu hipermarket \'berlalu\' jadi perbincangan pedagang pasar tradisional (karena pindah ke pinggiran kota), langsung mengalihkan topiknya menjadi supermarket murah.
Apalagi jumlah supermarket saat ini telah mencapai lebih dari 1.000 toko, sedangkan hipermarket masih terbilang puluhan.
Barangkali hal tersebut memang merupakan permasalahan yang belum berujung.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda